Jakarta -
Libur lebaran yang panjang sudah di depan mata. Pastinya, anak akan mendapatkan momen yang menyenangkan untuk berkumpul dengan keluarga dan bermain dengan teman-temannya.
Setelah liburan, biasanya anak akan diminta untuk menceritakan pengalaman liburannya di sekolah, Bunda. Pengalaman dan kegiatan seru apa saja yang dilakukan selama waktu liburan tersebut.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tugas menulis cerita biasanya memiliki topik bebas. Hal ini memungkinkan Si Kecil untuk menceritakan pengalaman apa saja, seperti perjalanan mudik yang seru, mengunjungi rumah nenek, atau kegiatan lain di kampung halaman.
Melalui tugas cerita liburan, anak dapat mempertahankan kenangan indah liburannya dan membagikannya dengan orang lain. Selain itu, menulis pengalaman liburan juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan menulis dan berbicara.
Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah dapat membantu Si Kecil dalam menulis cerita liburan. Juga, tugas sekolah tentang pengalaman libur lebaran dapat membantu mereka mengorganisir pikiran dan ide.
Sayangnya, terkadang Si Kecil masih bingung untuk memilih cerita apa saja yang akan dituliskan sebagai tugas sekolah. Berikut Bubun rangkum referensi cerita libur lebaran sebagai tugas sekolah Si Kecil.
Contoh cerita libur lebaran idul fitri yang berkesan dan menarik untuk tugas sekolah
Agar tidak bingung, berikut beberapa contoh cerita libur Lebaran yang bisa dijadikan inspirasi:
1. Berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman
Setiap tahun, keluarga saya selalu berkumpul di kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama. Perjalanan mudik yang penuh dengan cerita dan tawa menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Saat tiba di rumah nenek, kami disambut dengan hidangan khas Lebaran, seperti ketupat, opor ayam, dan kue kering yang dibuat dengan penuh cinta oleh ibu dan nenek. Suasana rumah yang penuh dengan suara riang anak-anak, percakapan hangat orang dewasa, dan tawa membuat kami merasa sangat dekat satu sama lain.
Setelah shalat Idul Fitri, kami saling bermaaf-maafan dan berbagi kisah. Setiap anggota keluarga saling berbagi cerita tentang kehidupan mereka selama setahun terakhir. Ada yang baru saja lulus sekolah, ada yang baru punya anak, dan tentu saja, semua cerita itu mempererat hubungan antar anggota keluarga.
Momen seperti ini membuat saya merasa bersyukur bisa berkumpul dengan orang-orang yang saya sayangi. Kemudian sore harinya, kami melanjutkan tradisi bermain bersama, seperti bermain bola, layang-layang, atau sekadar duduk bersama di teras menikmati udara sore yang sejuk.
Bermain bersama saudara-saudara tentunya sangat berarti bagi saya, karena tidak setiap hari bisa merasakan kebersamaan seperti ini. Kehangatan keluarga besar ini menjadi kenangan indah yang selalu saya rindukan setiap kali Lebaran tiba.
2. Kegiatan zakat dan berbagi pada yang kurang mampu
Lebaran kali ini saya merasa sangat tersentuh karena bisa ikut terlibat dalam kegiatan sosial bersama keluarga. Setiap tahun, orang tua saya selalu mengingatkan pentingnya berbagi dengan sesama, terutama pada saat Idul Fitri.
Kemudian kami pergi ke panti asuhan dan rumah-rumah warga yang membutuhkan untuk memberikan zakat, sembako, dan uang saku. Menyaksikan senyum bahagia mereka saat menerima bantuan membuat saya merasa sangat bersyukur dan bangga bisa membantu.
Saat kami tiba di panti asuhan, anak-anak yang tinggal di sana sangat antusias menyambut kedatangan kami. Selain menerima bantuan, mereka juga bercerita tentang kebahagiaan mereka meskipun jauh dari orang tua.
Ada yang ingin menjadi dokter, guru, atau seniman, dan kisah-kisah ini mengingatkan saya tentang betapa berharga dan pentingnya berbagi di momen yang penuh berkah ini. Kegiatan berbagi ini mengajarkan saya untuk tidak hanya merayakan Lebaran dengan kemewahan, tetapi juga dengan kepedulian terhadap orang lain.
Melihat betapa besar arti bantuan yang kami berikan membuat saya ingin terus melakukan kebaikan ini setiap tahun. Momen ini sekaligus menjadi salah satu pelajaran hidup berharga yang saya dapatkan dari liburan Lebaran kali ini.
3. Berburu takbiran dan meriahkan malam Lebaran
Malam takbiran sebelum Lebaran merupakan momen yang paling aku tunggu. Setiap tahun, aku dan teman-teman di kampung selalu ikut meramaikan malam takbiran dengan membawa obor dan berkeliling kampung.
Suasana malam itu begitu meriah, dengan suara takbir yang menggema di udara, mengingatkan kita tentang makna kemenangan setelah sebulan berpuasa. Dari anak-anak hingga orang dewasa ikut serta dalam perayaan ini dengan penuh semangat.
Selain berjalan mengelilingi kampung, kami juga menyanyikan lagu-lagu takbiran yang membuat suasana semakin meriah. Kami bertemu dengan orang-orang menyapa dengan penuh kebahagiaan, saling berbagi semangat dan ucapan selamat Idul Fitri.
Tidak ada rasa lelah, hanya keceriaan dan kebersamaan yang terasa dalam setiap langkah kami. Malam itu, tak hanya rumah-rumah yang dihiasi lampu dan petasan, tetapi hati setiap orang juga dipenuhi dengan kebahagiaan.
Setelah berkeliling, kami akhirnya berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat tahajud bersama, dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah. Kegiatan takbiran ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberi kami kesempatan untuk merenung dan bersyukur atas segala berkat yang diberikan.
Malam takbiran selalu menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan hanya tentang pesta atau keceriaan, tetapi juga tentang rasa syukur dan kebersamaan.
4. Perjalanan mudik yang penuh tantangan
Perjalanan mudik Lebaran selalu menjadi pengalaman yang penuh tantangan, namun juga sangat berkesan. Setiap tahun, keluargaku harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke kampung halaman.
Di tengah perjalanan, kami menghadapi kemacetan parah yang memakan waktu berjam-jam. Meski begitu, perjalanan mudik kali ini tetap terasa menyenangkan karena bisa menghabiskan waktu bersama keluarga, bercerita, dan bernyanyi bersama di mobil untuk mengusir rasa lelah.
Sayangnya, ada juga tantangan yang datang dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Terkadang hujan deras menghambat perjalanan, membuat kami harus berhenti di rest area untuk beristirahat sejenak.
Terlebih saat sahur, aku lupa menyampaikan pada pelayan restoran untuk menambahkan gula pada teh hangatku. Asal tahu saja, di daerah Jawa Barat jika kita memesan teh hangat tanpa menyelipkan kata 'manis' itu otomatis menjadi teh tawar.
Alhasil, aku merasa puasa di perjalanan menjadi lama dari biasanya. Walaupun perjalanan menjadi lebih lama dari yang kami harapkan, rasa rindu dan kebahagiaan saat akhirnya sampai di kampung halaman mengalahkan segala kesulitan yang kami hadapi selama perjalanan.
Sesampainya di rumah nenek, semua kelelahan itu hilang begitu saja. Lalu kami disambut dengan hangat oleh keluarga besar yang sudah menunggu. Kala itu tentunya mengingatkan saya bahwa meski perjalanan mudik penuh tantangan, namun kebahagiaan berkumpul bersama keluarga besar merupakan hadiah terbaik yang bisa kami rasakan.
5. Tradisi makanan khas Lebaran
Ilustrasi makanan khas Lebaran/Foto: Getty Images/iStockphoto/Ika Rahma
Libur Lebaran selalu identik dengan hidangan khas yang menggugah selera. Di rumah kami, menu utama yang selalu ada adalah ketupat, opor ayam, rendang, dan sambal goreng ati.
Setiap tahun, Ibu selalu sibuk memasak di dapur, tak lupa untuk dibantu oleh nenek dan saudara-saudara. Proses memasak yang melibatkan banyak orang ini selalu menghadirkan cerita seru, dari siapa yang bertugas memotong sayur hingga siapa yang mendapatkan bagian pertama untuk mencicipi makanan.
Ketika makanan siap disajikan, seluruh keluarga berkumpul di meja makan dan menikmati hidangan bersama-sama. Suasana menjadi sangat akrab dan penuh tawa, terutama saat saling berbagi cerita tentang aktivitas selama setahun.
Dengan makanan yang lezat dan kebersamaan seperti ini membuatku menyadari betapa pentingnya tradisi dan keluarga dalam perayaan Lebaran. Selain itu, ada juga kebiasaan membuat kue-kue kering seperti nastar, semprit, putri salju, dan kastengel.
Proses pembuatan kue ini menjadi momen yang selalu aku tunggu keseruannya. Meski ada sedikit kekacauan di dapur, tetapi semua itu terbayar saat kue-kue tersebut siap dihidangkan di meja tamu. Hidangan Lebaran bukan hanya sekadar soal makanan, tetapi juga tentang kebersamaan yang tercipta dalam proses memasak dan menyantapnya.
6. Mengunjungi teman lama dan silaturahmi
Liburan Lebaran juga menjadi waktu yang tepat untuk mengunjungi teman-teman lama. Setiap tahun, saya dan keluarga selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.
Tentunya kami saling mengucapkan selamat Lebaran dan berbagi cerita tentang pengalaman hidup masing-masing. Tidak hanya bertemu dengan teman-teman sebaya, tetapi juga dengan orang tua mereka yang selalu menyambut kami dengan ramah.
Silaturahmi ini sangat berarti, sebab kami bisa mempererat hubungan yang sudah lama terjalin. Setelah bersalam-salaman, kami mulai berbincang tentang masa-masa kecil yang penuh kenangan, beragam pengalaman selama setahun terakhir, dan tentunya, saling memaafkan.
Terkadang, kami juga menghabiskan waktu dengan bermain bersama anak-anak teman, sehingga membuat suasana semakin hidup dan penuh keceriaan. Momen silaturahmi ini memberikan saya banyak pelajaran tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Tidak hanya keluarga, tetapi teman-teman yang sudah lama tidak bertemu pun tetap merasa seperti keluarga. Hal itu yang menjadi keistimewaan Lebaran membawa banyak kebaikan dan kebahagiaan bagi semua yang merayakannya.
7. Tradisi Lebaran yang mengharukan
Salah satu momen paling menyentuh selama Lebaran merupakan saat bermaaf-maafan dengan keluarga dan teman-teman. Setiap tahun, setelah shalat Idul Fitri, saya selalu memohon maaf kepada orang tua dan saudara-saudara.
Biasanya momen ini penuh dengan tangis haru, terutama saat meminta maaf atas segala kesalahan dan kelalaian yang mungkin terjadi selama setahun terakhir. Kami semua saling berpelukan, dan rasanya seperti beban yang berat hilang begitu saja.
Tidak hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi tradisi bermaaf-maafan juga dengan sikap yang tulus. Dalam setiap pelukan dan ucapan maaf, ada pengakuan akan pentingnya hubungan antar manusia dan saling memaafkan.
Hal ini merupakan momen yang selalu membuat saya merasa lebih dekat dengan orang-orang yang saya sayangi. Meski terkadang ada perasaan canggung, namun pada akhirnya, semua itu menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Saat bermaaf-maafan, saya juga teringat akan arti Lebaran yang sebenarnya. Lebaran bukan hanya tentang pakaian baru atau makanan lezat, tetapi tentang memperbaiki hubungan, memaafkan kesalahan, dan memulai lembaran baru yang lebih baik. Tradisi ini mengajarkan saya tentang kerendahan hati, kebersamaan, dan pentingnya saling menghormati.
Itulah contoh cerita libur lebaran Idul Fitri yang berkesan dan menarik untuk tugas sekolah Si Kecil. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)