Anak Usia 12 Th Sudah Lulus SMA, Ayah Ungkap Cara Sederhana agar Si Kecil Sukses

3 months ago 49

Jakarta -

Kebanyakan anak akan lulus SMA ketika mereka berusia 17 atau 18 tahun, Bunda. Namun, hal berbeda terjadi pada seorang anak bernama Suborno Bari asal Lynbrook, New York.

Suborno Bari adalah anak berusia 12 tahun yang baru saja lulus SMA pada Juni 2024. Suborno pun akan melanjutkan jenjang perkuliahan pada musim gugur di Universitas New York.

Rencananya, Suborno akan mengambil jurusan matematika dan fisika. Dirinya pun mendaftar sebagai mahasiswa komuter.

Banner Anak Perempuan Tidak Dekat dengan Ayah

Orang tuanya, Rashidul Bari dan Shaheda, mengungkap bahwa mereka memiliki putra lain, yakni Refath yang berusia 21 tahun. Ia baru saja lulus kuliah di awal tahun ini dan akan melanjutkan pendidikan ke Brown University untuk mengejar gelar sarjana di bidang fisika.

Bunda dan Ayah pasti penasaran dengan gaya parenting yang dilakukan oleh Rashidul dan Shaheda. Faktanya, mereka hanya melakukan hal yang sangat sederhana.

Gali dan dukung minat anak

Dilansir dari laman CNBC Make It, Rashidul mengungkap bahwa mereka hanya mendengarkan anak-anak mereka tentang hal yang mereka minati. Tidak hanya itu, sebagai orang tua, Rashidul dan sang istri pun akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk membantu mereka mengeksplorasi minat tersebut.

"Cobalah untuk menemukan apa yang berpotensi dilakukan anak-anak anda, apa yang mereka sukai, dan apa yang mereka cintai. Begitu Anda mengetahuinya, Anda mencoba melayani kebutuhan mereka (di bidang minat tersebut)," ungkapnya.

Sebelumnya, Rashidul meremehkan perannya dan sang istri dalam prestasi akademis anak-anak mereka. Namun, Suborno memuji orang tuanya karena secara proaktif memenuhi rasa ingin tahunya sejak usia dini.

Orang tua Suborno telah memberinya akses ke 'tumpukan besar' buku teks matematika tingkat lanjut. Meskipun saat itu Suborno belum menyelesaikan sekolah dasar, kedua orang tuanya telah mengenali keingintahuan intelektual Suborno sejak dini.

"Jujur, itu semua pasti ulang orang tua saya. Meski mereka tidak mau mengatakannya," kata Suborno.

Cara orang tua Suborno membantu sang anak belajar

Suborno mulai berbicara ketika mereka berusia enam bulan. Pada usia dua tahun, ia sudah menghafal tabel periodik unsur.

Ketika mereka menyadari betapa hebatnya sang putra, Rashidul dan sang istri pun melakukan segala cara agar Suborno selalu merasa penasaran dan tidak bosan.

Pertama, sang Bunda yang merupakan seorang guru SD, mengajarinya matematika. Ketika Suborno sudah berusia dua tahun, Ayahnya mengambil alih.

"Ketika dia berumur empat atau lima tahun, tantangannya begitu berat sehingga saya bahkan menyerah. Karena saya hanya bisa melakukan banyak hal," ujar Rashidul yang kini mengajar fisika di Brooklyn Technical High School.

Sebaliknya, Rashidul mengajak Suborno bersamanya ke kampus dan memperkenalkan putranya yang masih kecil kepada para profesornya.

"Saya mengambil tanggung jawab untuk mengantarnya berkeliling alih-alih menjadi gurunya," ujar Rashidul.

Rashidul sudah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk mengawal Suborno ke universitas-universitas di seluruh dunia. Mulai dari Brooklyn College hingga Universitas Mumbai, tempat Suborno bertugas menjadi seorang dosen tamu dalam fisika pada usia tujuh tahun.

Meski memiliki anak yang 'ajaib', Rashidul tetap memberi Suborno masa kecil yang relatif normal. Ia mendaftarkan Suborno ke sekolah TK negeri setempat. Tidak hanya itu, Rashidul juga memberinya jadwal yang disesuaikan yang mencakup waktu bermain dengan anak-anak seusianya dan waktu untuk kursus lanjutan.

Suborno tidak melewati kelas empat dan langsung naik ke kelas delapan dalam satu tahun. Ia pun langsung naik dari kelas sembilan ke kelas 12 sebelum akhirnya lulus pada bulan Juni.

Suborno mengungkap dirinya memiliki cita-cita menjadi seorang guru seperti kedua orang tuanya. Suborno akan menyebarkan kecintaannya pada matematika dan fisika.

Bunda, perlu dipahami bahwa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak cenderung berprestasi lebih baik di sekolah ketika orang tua mereka terlibat dalam pembelajaran. Hal ini bisa berarti membacakan untuk mereka sejak dini atau melakukan karyawisata dan menjadi sukarelawan di sekolah ketika mereka sudah dewasa.

"Menghabiskan waktu berkualitas dengan anak-anak dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus tentang minat mereka akan memberi sinyal kepada mereka bahwa pikiran dan perasaan mereka sangat penting," jelas psikolog anak, Tovah Klenin pada CNBC Make It.

Demikian kisah anak usia 12 tahun yang sudah lulus SMA, Bunda. Semoga bisa menjadi inspirasi, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(mua/fir)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online