Jakarta -
Hormon oksitosin memiliki pengaruh besar bagi kelangsungan menyusui. Studi temukan kaitan antara depresi postpartum dan terganggunya hormon oksitosin saat menyusui, Bunda.
Oksitosin merupakan hormon yang sering disebut sebagai hormon cinta karena perannya dalam meningkatkan rasa percaya diri dan bonding. Oksitosin diproduksi di hipotalamus, suatu wilayah di otak, dan dilepaskan ke dalam aliran darah oleh kelenjar pituitari sebagai respons terhadap rangsangan dan isapan puting. Hormon ini sendiri memainkan peran penting dalam persalinan dan menyusui.
Apa itu oksitosin dan mengapa hormon ini penting?
Saat bayi mulai menyusu, rangsangan pada puting ibu mengirimkan sinyal ke hipotalamus, yang kemudian memicu pelepasan oksitosin dari kelenjar pituitari. Oksitosin menyebabkan saluran susu di payudara berkontraksi, yang menggerakkan susu ke arah puting susu, sehingga memudahkan bayi untuk menyusu.
Selain perannya dalam pengeluaran ASI, oksitosin juga memiliki beberapa efek penting lainnya pada proses menyusui. Oksitosin membantu meningkatkan ikatan ibu-bayi dan dapat meningkatkan perasaan rileks dan sejahtera pada ibu. Hal ini dapat sangat membantu selama hari-hari awal menyusui ketika ibu dan bayi belajar cara menyusui seperti dikutip dari laman Lactamo.
Penelitian juga menunjukkan bahwa oksitosin dapat berdampak positif pada produksi ASI. Penelitian telah menemukan bahwa ibu yang memiliki kadar oksitosin yang lebih tinggi selama menyusui cenderung menghasilkan lebih banyak ASI secara keseluruhan.
Kaitan antara depresi postpartum dan terganggunya hormon oksitosin saat menyusui
Menjalani peran sebagai ibu menyusui memang tidaklah mudah ya, Bunda. Dengan segala tugas yang diemban ibu menyusui tak jarang mereka pun rentan terkena depresi postpartum. Hal ini kemudian berimbas pada kelancaran menyusui.
Oksitosin diketahui dapat membantu melepaskan ASI dan memperkuat bonding antara ibu dan bayi. Ketika ibu menyusui mengalami depresi pasca persalinan maka kelangsungan hormon oksitosin dapat terpengaruh selama menyusui, seperti ditemukan sebuah studi baru yang dilakukan peneliti UCL.
Penelitian baru yang diterbitkan dalam Psychoneuroendocrinology, menyelidiki hubungan antara suasana hati ibu dan jalur oksitosin selama menyusui, pada ibu dengan dan tanpa gejala depresi pasca persalinan.
Oksitosin adalah hormon yang dilepaskan di otak dan tubuh. Hormon ini berperan penting dalam proses melahirkan dan menyusui, serta terlibat dalam hubungan sosial, terutama keintiman, dan proses keterikatan selama masa bayi.
Dalam proses menyusui, oksitosin memicu refleks 'let-down' yang melepaskan ASI dan dirangsang pada ibu dan bayinya melalui sentuhan kulit ke kulit seperti dikutip dari laman News Medical.
Pelepasan oksitosin juga berinteraksi dengan daerah otak tertentu untuk mengurangi stres dan merangsang penghargaan yang terkait dengan hal ini, sehingga memudahkan ikatan ibu-bayi dan perkembangan bayi di awal kehidupan.
Ibu yang mengalami depresi pasca persalinan melaporkan peningkatan stres selama menyusui dan penyapihan dini. Meskipun konteks sosial yang terkait dengan depresi ibu kemungkinan berkontribusi terhadap hal ini, belum diketahui apakah sistem oksitosin juga dapat terpengaruh.
Di Inggris, depresi pasca persalinan memengaruhi lebih dari satu dari setiap 10 perempuan dalam kurun waktu satu tahun setelah melahirkan, gejalanya meliputi suasana hati yang terus-menerus rendah, merasa gelisah atau mudah tersinggung, dan sulit tidur.
Untuk penelitian baru ini, 62 ibu baru berusia antara 23 dan 44 tahun, yang memiliki bayi berusia antara tiga dan sembilan bulan, masing-masing diberi semprotan hidung sebelum menyusui, yang mengandung oksitosin atau plasebo.
Sampel ASI dikumpulkan selama menyusui dan dianalisis untuk mengetahui kadar oksitosin. Tim menemukan bahwa kadar oksitosin dalam ASI tidak terpengaruh oleh suasana hati ibu pada awal penelitian.
Namun, meskipun oksitosin terlihat meningkat dalam ASI perempuan tanpa depresi pasca persalinan setelah menggunakan semprotan hidung yang mengandung hormon tersebut, efek ini berkurang pada ibu yang mengalami depresi pasca persalinan.
Temuan para peneliti menunjukkan bahwa sistem oksitosin dipengaruhi oleh depresi pascapersalinan pada ibu baru dalam konteks menyusui.
Karena kadar oksitosin yang lebih tinggi pada ibu dikaitkan dengan hasil positif dalam perkembangan sosial anak dan kesehatan mental mereka, hasil ini menunjukkan kemungkinan jalur yang memungkinkan bayi dari ibu yang mengalami depresi postpartum berisiko lebih tinggi mengalami kerentanan kesehatan mental di kemudian hari.
Jadi, penting sekali menjaga kesehatan fisik dan juga mental agar terhindar dari risiko depresi ya, Bunda. Tetap semangat mengASIhi, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)