Jakarta -
Kemoterapi mungkin seperti tidak ada hubungannya dengan siklus menstruasi. Tetapi, dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa kemoterapi kanker payudara bisa lebih berhasil dilakukan setelah menstruasi.
Meskipun kanker payudara tampaknya tidak memengaruhi aliran atau waktu siklus menstruasi perempuan, penelitian menunjukkan adanya hubungan antara risiko kanker payudara dan usia saat seseorang mulai dan berhenti menstruasi.
Selain itu, pengobatan kanker payudara tertentu dapat memengaruhi periode perempuan dengan menghentikan sementara atau terkadang menghentikannya secara permanen.
Menstruasi dini
Seperti diketahui bahwa estrogen memegang peranan penting untuk perkembangan seksual dan fungsi tubuh utama lainnya. Estrogen membantu perkembangan dan stimulasi jaringan payudara saat seseorang mulai menstruasi. Namun, jumlah estrogen yang diterima sepanjang hidup juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara.
Menstruasi dimulai pada usia lebih awal dari usia rata-rata dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena kanker payudara. Dalam satu penelitian menemukan bahwa orang yang menstruasinya dimulai sebelum usia 11 tahun mungkin memiliki risiko 15–20 persen lebih tinggi terkena kanker payudara daripada mereka yang menstruasi pada usia 15 tahun atau lebih.
Analisis lain dari lebih dari 100 penelitian memperkirakan bahwa untuk setiap tahun lebih muda seseorang saat menstruasi pertama, risiko kanker payudara meningkat sebesar 5 persen.
Menstruasi di usia lanjut
Setelah menstruasi pertama, menstruasi berlanjut hingga perempuan mencapai menopause (saat siklus menstruasi berakhir). Hal ini biasanya terjadi antara usia 40 dan 58 tahun, dengan usia rata-rata menopause di Amerika Serikat adalah 52 tahun.
Mencapai menopause setelah usia 55 tahun meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Para ahli percaya hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh paparan estrogen seumur hidup yang lebih lama. Semakin lama seseorang mencapai menopause, semakin lama pula jaringan payudara terpapar estrogen, sehingga meningkatkan risiko kanker payudara untuk kelompok ini.
Mengurangi risiko kanker payudara
Penelitian kanker payudara telah menemukan banyak faktor risiko dan penyebab potensial kanker payudara. Beberapa faktor risiko ini, seperti mengurangi asupan alkohol, dapat diubah. Faktor risiko lainnya, seperti memiliki riwayat keluarga kanker payudara, berada di luar kendali seseorang.
Karena tidak ada cara untuk memengaruhi kapan menstruasi pertama Bunda dimulai atau kapan Bunda mencapai masa menopause, faktor risiko tersebut tidak dapat diubah.
Meskipun demikian, para ahli menyarankan untuk mempertimbangkan penyesuaian gaya hidup guna membantu mengurangi risiko Bunda secara keseluruhan, seperti:
1. Menjaga berat badan yang sehat untuk tipe tubuh dan kesehatan Bunda secara keseluruhan.
2. Membatasi asupan alkohol.
3. Banyak berolahraga.
4. Mengurangi paparan estrogen tambahan dengan membatasi terapi hormon untuk masa menopause.
Selain itu, pemeriksaan mammogram secara teratur merupakan alat penting untuk mendiagnosis kanker payudara pada stadium awal, saat kanker mungkin lebih mudah diobati. Pemeriksaan direkomendasikan dimulai pada usia 40 tahun bagi perempuan dengan risiko kanker payudara rata-rata atau pada mereka yang berisiko lebih tinggi (misalnya, mereka yang memiliki riwayat keluarga) mungkin perlu memulai lebih awal seperti dikutip dari laman Very Well Health.
Risiko kanker payudara setiap orang berbeda. Jika memungkinkan, bicarakan dengan dokter tentang riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, sehingga mereka dapat membantu Bunda menentukan skenario risiko individual yang mungkin muncul.
Periode dan perawatan kanker payudara
Orang yang telah didiagnosis menderita kanker payudara dan sedang menjalani perawatan mungkin mendapati bahwa menstruasi mereka terpengaruh. Beberapa perawatan kanker payudara dapat memengaruhi fungsi ovarium seseorang yakni mengganggu siklus menstruasi.
Misalnya kemoterapi yang menjadi salah satu perawatan untuk membunuh sel kanker payudara tetapi juga dapat memengaruhi sel-sel lain dalam tubuh, seperti sel-sel di ovarium. Akibatnya, kemoterapi sering kali mengganggu siklus menstruasi, menghentikan periode menstruasi untuk sementara atau menghentikannya sama sekali.
Ada juga terapi pemblokiran estrogen sebagai pengobatan kanker payudara. Dalam terapi ini, obat-obatan seperti tamoxifen dan golongan obat yang dikenal sebagai inhibitor aromatase memengaruhi cara estrogen berinteraksi dalam tubuh. Hal ini terkadang dapat menyebabkan periode menstruasi tidak teratur atau menyebabkan penghentian permanen dalam siklus menstruasi.
Selain itu, digunakan juga obat imunoterapi. Kelas obat yang lebih baru ini menyerang sel kanker dengan menggunakan sistem kekebalan tubuh. Bukti awal menunjukkan bahwa hal itu dapat memengaruhi ovarium dan siklus menstruasi, tetapi diperlukan lebih banyak penelitian tentang efek jangka panjangnya pada reproduksi.
Benarkah pengobatan kanker payudara paling berhasil dilakukan setelah menstruasi?
Data menunjukkan bahwa kanker payudara lebih rentan terhadap kemoterapi pada fase ketika progesteron rendah. Meski demikian, efektivitas kemoterapi bervariasi tergantung pada siklus menstruasi seseorang seperti dikutip dari laman Nature.
Sel kanker payudara lebih rentan terhadap kemoterapi pada titik-titik tertentu dalam siklus menstruasi. Para peneliti mempelajari siklus hormonal yang setara pada tikus dan menemukan bahwa selama fase estrus, saat kader progesteron rendah, tumor lebih rentan terhadap kemoterapi.
Efek yang sama ditunjukkan pada manusia dalam sebuah studi retrospektif kecil. Tim tersebut memperingatkan bahwa uji klinis yang lebih besar perlu dilakukan, tetapi berharap bahwa penelitian ini dapat membuka cara yang mudah diterapkan untuk meningkatkan efek kemoterapi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)