Jakarta -
Tortikolis pada bayi merupakan kondisi yang membuat lehernya tampak terputar miring ke satu sisi. Hal ini bahkan tak hanya bisa terjadi pada bayi dan anak-anak, tapi juga orang dewasa.
Ada beberapa kasus tortikolis yang tidak berbahaya, tetapi dalam sebagian kasus lainnya mungkin juga memerlukan penanganan medis khusus. Untuk memastikan hal tersebut, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter ya, Bunda.
Apa itu Tortikolis?
Dikutip dari Cleveland Clinic, tortikolis adalah suatu kondisi di mana otot-otot leher bayi menyebabkan kepala mereka terputar dan miring ke satu sisi. Kondisi ini dapat membuat leher bayi tampak terputar pada sudut yang tak biasa.
Puncak kepala bayi akan miring ke satu sisi, sementara dagunya miring ke sisi yang berlawanan. Kondisi ini juga dikenal dengan istilah wryneck.
Kata 'torticollis' sendiri berasal dari bahasa Latin, yaitu 'tortus' yang berarti terpelintir dan 'collum' yang berarti leher.
Ada dua jenis tortikolis pada bayi, yaitu tortikolis kongenital (terjadi sejak lahir) dan tortikolis yang didapat (terjadi setelah lahir). Tortikolis kongenital adalah jenis yang paling sering ditemui dan umumnya tidak menyakitkan bagi bayi.
Penyebab Tortikolis pada Bayi
Tortikolis kongenital dapat terjadi karena adanya pemendekan otot sternokleidomastoideus atau sternocleidomastoid muscles (SCM) pada leher bayi. Ini merupakan dua otot besar di leher, yang menghubungkan bagian belakang tengkorak dengan tulang dada dan tulang selangka.
Pakar kesehatan sampai saat ini masih belum mengetahui apa penyebab pasti dari pemendekan otot ini. Namun beberapa faktor bisa memengaruhinya, termasuk seperti:
- Posisi bayi dalam rahim
- Perkembangan abnormal pada otot SCM
- Pembentukan darah di otot leher (hematoma) setelah kelahiran
- Penebalan oto
- Sindrom Klippel-Feil, kelainan langka yang menyebabkan tulang belakang leher bayi menyatu
Sementara itu, tortikolis yang didapat bisa terjadi secara tiba-tiba atau berkembang secara perlahan setelah bayi lahir. Penyebab tortikolis ini bisa beragam, termasuk:
- Gastroesophageal reflux (GERD)
- Pembengkakan pada tenggorokan bayi yang menyebabkan pergeseran posisi tulang belakang leher dan menyebabkan spasme pada otot leher
- Gangguan penglihatan
- Reaksi terhadap obat-obatan tertentu
- Radang sendi leher (cervical spondylosis)
- Sindrom Sandifer, suatu kondisi langka yang menggabungkan GERD dengan kejang pada leher
Gejala Tortikolis pada Bayi
Dikutip dari Web MD, gejala tortikolis dapat muncul setelah bayi berusia 6 hingga 8 minggu, terutama ketika bayi mulai lebih mengontrol kepala dan lehernya.
Beberapa gejala yang umum ditemukan pada bayi dengan tortikolis yaitu:
- Kepala bayi miring ke satu sisi dengan dagu mengarah ke bahu yang berlawanan
- Bayi kesulitan memutar kepala ke arah kiri dan kanan, serta atas dan bawah
- Teraba benjolan lembut pada otot leher bayi, namun umumnya tidak berbahaya dan akan hilang dalam waktu 6 bulan
- Bayi cenderung hanya melihat ke satu sisi dan sulit melihat pergerakan orang tua
- Kesulitan menyusui pada satu sisi tubuh atau lebih suka menyusui hanya pada satu sisi saja
- Salah satu bahu bayi tampak lebih tinggi daripada yang lain
- Otot leher bayi terasa kaku atau tegang
Pada kasus tortikolis yang didapat, gejalanya bisa lebih berat, seperti:
- Nyeri leher atau sakit kepala yang parah
- Kejang otot leher yang menyebabkan kepala bayi miring ke arah satu sisi
- Otot leher yang terasa kaku, tegang, atau bengkak
- Gerakan kepala dan leher bayi terbatas
- Salah satu bahu bayi lebih tinggi daripada yang lain
- Ada tremor atau gerakan bergetar pada kepala
Diagnosis Tortikolis
Untuk menegakkan diagnosis tortikolis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada bayi. Termasuk mengamati sejauh mana kepala bayi terputar atau miring.
Dokter juga akan memeriksa otot leher untuk mencari apakah ada pembengkakan atau kekakuan. Bergantung pada kondisi masing-masing bayi, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan seperti:
- Rontgen leher
- Pemindaian CT (Computed Tomography) pada kepala dan leher
- Pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada kepala dan leher
Terapi Tortikolis
Jika bayi mengalami tortikolis yang didapat, pengobatan akan difokuskan pada kondisi yang menyebabkannya. Sementara itu, sebagian besar kasus tortikolis kongenital dapat diobati dengan latihan peregangan atau perubahan posisi di rumah.
Dokter mungkin akan mengajarkan beberapa latihan khusus untuk dilakukan bersama Si Kecil. Gerakan-gerakan ini akan membantu melenturkan otot yang lebih kencang dan lebih pendek, serta memperkuat otot di sisi yang berlawanan.
Setelah tortikolis didiagnosis dan latihan peregangan dimulai, sebagian besar bayi membaik dalam waktu 6 bulan. Ada dua hal yang dapat mempercepat pemulihan, yakni diagnosis dini dan mematuhi rencana pengobatan.
Berikut beberapa langkah lain yang dapat dilakukan di rumah:
Meregangkan leher bayi
Lakukan gerakan peregangan yang lembut pada leher bayi untuk membantu mengatasi otot yang kaku.
Berikan mainan yang menarik
Letakkan mainan di sisi berlawanan dari arah favorit bayi, sehingga bayi akan berusaha untuk memutar kepala ke arah yang lebih sulit.
Tummy time
Berikan waktu untuk bayi tengkurap setiap hari selama 15 menit, setidaknya 3-4 kali sehari. Aktivitas ini dapat membantu memperkuat otot leher dan punggung mereka.
Selain itu, dokter mungkin juga merujuk bayi untuk menjalani fisioterapi guna mempercepat pemulihan.
Pengobatan Tortikolis
Selain perawatan dan terapi di rumah, jika perlu dokter mungkin ingin bayi juga melakukan terapi fisik khusus.
Paling sering, latihan peregangan dan perubahan posisi dapat mengobati tortikolis kongenital. Dokter dan tim medis akan mengajarkan Bunda cara meregangkan otot leher bayi dengan tepat.
Bunda perlu menggerakkan kepala bayi dengan lembut ke sisi yang berlawanan, yang dilakukan beberapa kali sehari. Seiring berjalannya waktu, tingkatkan gerakan secara perlahan.
Jika metode ini tidak berhasil, bayi mungkin akan memberikan rujukan terapi fisik. Beberapa tim yang bisa dilibatkan dalam pengobatan tortikolis di antaranya dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dokter spesialis saraf anak, dan dokter bedah ortopedi.
Pengobatan tortikolis yang didapat difokuskan pada kondisi yang menyebabkannya dan meredakan gejalanya. Termasuk di antaranya seperti:
- Terapi antibiotik
- Suntikan toksin botulinum untuk mengendurkan otot leher yang kaku
- Terapi panas
- Pijat
- Penyangga atau kerah leher
- Terapi fisik
Demikian ulasan tentang tortikolis pada bayi, termasuk penyebab, gejala, diagnosis dan cara mengobatinya. Dengan perawatan yang tepat dan diagnosis dini, sebagian besar bayi dengan tortikolis dapat pulih sepenuhnya dalam waktu beberapa bulan.
Jadi, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter jika ada gejala yang mengarah pada tortikolis pada Si Kecil ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)