Jakarta -
Kemajuan teknologi telah membantu berbagai bidang, termasuk pasangan suami istri yang kesulitan memiliki anak. Selain metode in vitro fertilization (IVF), muncul metode baru yang lebih canggih yakni in vitro gametogenesis (IVG).
Dilansir dari The Bump, IVG ini kemungkinan besar belum tersedia dalam beberapa tahun ke depan. Pasalnya, para peneliti masih bergulat dengan potensi masalah hukum dan etika.
Apa itu in vitro gametogenesis (IVG)?
In vitro gametogenesis (IVG) adalah teknologi baru dengan janji yang sangat besar: Teknologi ini bertujuan agar suatu hari semua jenis keluarga dapat memiliki bayi dengan jauh lebih mudah, termasuk keluarga yang berjuang dengan masalah kesuburan.
IVG memungkinkan dokter membuat sel reproduksi dari sel apa pun yang diambil dari tubuh orang tua, seperti potongan kulit atau bahkan sehelai rambut.
IVG menggunakan teknologi reproduksi berbantuan, yang memungkinkan pembuatan sel telur (oosit) dan sperma dari sel-sel tubuh (somatik) di laboratorium.
Proses ini melibatkan teknologi induced pluripotent stem cells/iPSCs, yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel, termasuk sel telur dan sperma.
Beda IVF & IVG
1. Sumber sel gamet
- IVF memerlukan ekstraksi sel telur dan sperma yang diambil langsung dari donor untuk memulainya.
- IVG kemungkinan dokter yang membuat sel reproduksi di laboratorium dari sel apa pun yang diambil dari tubuh calon orang tua seerti sel kulit.
2. Prosesnya
- IVF: Fertilisasi sel telur oleh sperma di luar tubuh, kemudian embrio yang terbentuk ditransfer ke rahim.
- IVG: mengubah sel somatik menjadi sel induk pluripoten, lalu mengarahkannya untuk berkembang menjadi sel telur atau sperma.
3. Potensi aplikasi
- IVF baru terbatas pada pasangan yang masih memiliki sel telur atau sperma yang layak.
- IVG: Lebih luas karena dapat membantu orang yang tidak memiliki sel gamet fungsional, seperti perempuan menopause atau pria dengan produksi sperma yang sangat rendah.
Siapa yang mendapat manfaat IVG di masa depan?
IVG dapat membantu banyak orang yang sedang berjuang untuk membangun keluarga. “IVG benar-benar membuka jalan bagi orang-orang dengan masalah infertilitas yang tidak dapat diatasi oleh teknologi apa pun yang kita miliki saat ini,” kata Andrea Braverman, PhD, seorang profesor dan psikolog di departemen obstetri dan ginekologi di Universitas Thomas Jefferson.
Braverman mengatakan, IVG dapat memperlancar jalur IVF tradisional tanpa harus mencari donor sperma atau sel telur pada pasangan dengan masalah kesuburan. Perempuan dapat menggunakan IVG jika di kemudian hari memutuskan untuk memiliki bayi, setelah cadangan ovariumnya berkurang.
Kapan IVG akan tersedia?
Paula Amato, MD, seorang profesor kebidanan dan ginekologi di Oregon Health and Science University dan presiden terpilih American Society for Reproductive Medicine (ASMR) mengatakan kemungkinan masih 10 hingga 20 tahun lagi untuk melihat bayi IVG pertama.
Para ilmuwan di universitas-universitas di seluruh dunia dan perusahaan-perusahaan teknologi swasta sedang mengerjakan IVG dari berbagai sudut pandang. Banyak yang sedang mengerjakan perkembangan multi-langkah dari pemrograman ulang sel-sel kulit untuk menjadi sel-sel induk pluripoten, yang kemudian harus diubah menjadi gamet sebelum dapat berkembang menjadi sel telur.
Namun, seiring kemajuan ilmu pengetahuan di AS, penelitian tersebut berbenturan dengan masalah etika dan peraturan seputar penggunaan embrio manusia dalam pengujian medis.
“Anda tidak dapat menggunakan dana federal untuk apa pun yang memengaruhi embrio, [yang memengaruhi] siapa yang melakukan penelitian dan di mana,” kata Sonia Suter, seorang profesor di Sekolah Hukum Universitas George Washington yang penelitiannya berfokus pada teknologi reproduksi yang sedang berkembang serta isu hukum dan bioetika dalam bidang kedokteran dan genetika.
Tantangan dan kontroversi IVG
1. Keamanan
Salah satu pertanyaan besar dari IVG adalah keamanannya, apakah bayi yang lahir sehat dalam jangka panjang. Suter menjelaskan bahwa saat dimulainya eksperimen IVG pada hewan dan memasuki tahap embrio manusia awal, hasilnya tidak akan memberi tahu secara pasti apa yang akan terjadi pada bayi manusia—atau orang dewasa—di kemudian hari.
2. Perlindungan dari penyalahgunaan
Kedepan harus ada regulasi ketat untuk memastikan penggunaan IVG yang bertanggung jawab dan sesuai dengan norma sosial.
“Jika Anda dapat menggunakan sel apa pun dan seseorang dapat mencabut sehelai rambut dari kepala yang memiliki susunan genetik Anda, apakah ada kekhawatiran tentang penyalahgunaan ini?” catat Braverman.
3. Etika
IVG menimbulkan pertanyaan, seperti potensi penyalahgunaan untuk membuat designer babies atau kloning manusia.
Terlepas dari semua pertanyaan yang belum terjawab sejauh ini, IVG berpotensi menjadi revolusi teknologi dan titik balik bagi banyak keluarga yang penuh harapan di kemudian hari.
"Kami telah bergulat dengan masalah etika di [American Society for Reproductive Medicine] selama beberapa dekade," kata Amato.
“Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menjalankan percakapan etis ini secara paralel dengan inovasi—kita tidak boleh menghentikan sains sambil menunggu isu-isu etis muncul.”
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)