Aktris Nikita Willy melahirkan anak keduanya berjenis kelamin laki-laki pada Minggu (15/12/24) di Amerika Serikat. Putra kedua Nikita Willy yang bernama Nael Idrissa Djokosoetono ini lahir melalui proses persalinan dengan metode water birth, Bunda.
Dalam foto-foto yang dibagikan, Nikita Willy tampak melahirkan dibantu oleh bidan dan pendamping persalinan. Setelah persalinan selesai, istri Indra Priawan ini langsung memeluk putra kecilnya itu sambil tetap berada di dalam bak berisi air.
Proses persalinan water birth bukan hal baru di dunia medis. Lantas, apa saja keuntungan dan risiko melahirkan dengan metode water birth ya?
Simak penjelasannya berikut ini.
Keuntungan melahirkan water birth
Dikutip dari Parents, water birth adalah proses persalinan yang dilakukan di dalam bak berisi air hangat. Persalinan ini dapat dilakukan di rumah, di pusat bersalin, atau rumah sakit tertentu.
Metode persalinan water birth sering kali dipilih karena memiliki beberapa keuntungan, seperti:
- Minim rasa sakit
- Tidak memerlukan obat atau epidural
- Minim intervensi tambahan, seperti induksi atau episiotomi
- Waktu persalinan lebih singkat
- Bunda merasa nyaman selama proses persalinan
- Mudah bergerak, sehingga mampu menemukan posisi yang nyaman untuk membantu bayi keluar
- Mengurangi robekan perineum (area antara vagina dan anus)
Sebenarnya, water birth tidak 100 persen bebas rasa sakit. Faktanya, nyeri persalinan bisa saja dirasakan selama proses persalinan dengan metode ini. Namun, lingkungan di air yang hangat cenderung membuat Bunda lebih nyaman dan dapat menenangkan saat mengalami sakit.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mengatakan bahwa melahirkan di air selama tahap pertama persalinan mungkin memiliki beberapa manfaat. Tetapi, melahirkan bayi di dalam air harus dianggap sebagai prosedur eksperimental dengan risiko.
Alasan water birth tidak direkomendasikan di Indonesia
Nikita Willy/ Foto: Instagram @nikitawillyofficial94
Melahirkan dengan metode water birth sebaiknya tidak dilakukan tanpa melakukan konsultasi ke dokter. ACOG bahkan menyarankan ibu hamil untuk tidak dahulu melakukan prosedur ini karena masih kurangnya data dan kajian. Menurut ACOG, proses perendaman (air) pada fase pertama persalinan memang memiliki keuntungan. Namun, tidak ada cukup bukti mengenai manfaat dan risikonya pada fase kedua dan ketiga.
Sama seperti metode operasi caesar, melahirkan di air juga memiliki beberapa risiko bagi ibu hamil. Di Indonesia, water birth ternyata tidak direkomendasikan sebagai metode persalinan karena dianggap berisiko.
"Untuk di Indonesia tidak dianjurkan, tidak disarankan oleh perhimpunan untuk diadakan lagi water birth, dari perhimpunan POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia)," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr. Muhammad Fadli, SpOG, dilansir detikcom, Rabu (18/12/24).
Menurut Fadli, salah satu pemicu metode persalinan water birth direkomendasikan adalah terjadinya kasus kematian janin pasca water birth di Indonesia yang sempat terjadi beberapa tahun lalu. Selain itu, metode persalinan ini juga dianggap berisiko karena dapat menyebabkan infeksi dan asfiksia atau kekurangan oksigen pada bayi.
"Waktu mau lahir keluar kepalanya, terkadang dia itu sudah menangis dan bernapas. Nah, ini bisa menyebabkan aspirasi, lalu tertelanlah air yang di luar itu, yang masuk ke paru-paru, dan akhirnya bisa menyebabkan bayinya asfiksia, kekurangan oksigen. Atau bisa mengakibatkan infeksi, hingga kematian pada janin," ujarnya.
Bicara soal risiko, infeksi memang dapat terjadi pada proses persalinan ini, Bunda. Dikutip dari beberapa sumber, infeksi dapat terjadi ketika bayi yang lahir melalui proses water birth menelan air yang terkontaminasi.
Meski steril, air yang digunakan untuk proses persalinan dapat terkontaminasi flora vagina dan rektum ketika ibu hamil duduk di dalam bak mandi. Risiko infeksi pada area rahim juga dapat dialami Bunda karena terpapar air ketuban yang pecah selama persalinan.
Selain itu, risiko robeknya tali pusat juga dapat terjadi. Saat melahirkan di air, bayi biasanya akan diangkat ke permukaan dengan cepat, atau kepala terlebih dahulu. Gerakan cepat ini akan memungkinkan mereka untuk mulai bernapas sesegera mungkin. Namun, ada risiko tali pusatnya putus saat melakukan tindakan tersebut.
Pada kondisi tertentu, tali pusat yang pendek juga dapat mengikat janin di bawah air atau robek, sehingga menyebabkan janin kehilangan darah.
Kondisi ibu hamil tidak dianjurkan melahirkan dengan water birth
Seperti dijelaskan sebelumnya, tidak semua ibu hamil bisa melahirkan dengan metode water birth. Berikut beberapa faktor yang membuat seorang Bunda tidak dapat melakukan proses persalinan ini, seperti melansir dari Web MD:
- Perempuan berusia di bawah 17 tahun atau di atas 35 tahun.
- Memiliki komplikasi seperti preeklamsia atau diabetes
- Melahirkan bayi kembar atau lebih
- Bayi berada dalam posisi sungsang
- Bayi lahir prematur
- Bayi sangat besar
- Ibu hamil mengalami infeksi.
Demikian keuntungan dan risiko melahirkan dengan metode water birth yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Simak juga serba-serbi tentang water birth dalam video berikut ini:
(ank/som)
Loading...