Jakarta -
Susu sapi menjadi salah satu sumber protein yang baik untuk tumbuh dan kembang anak. Namun, tidak semua anak bisa mengonsumsi susu sapi karena mereka mengalami alergi.
Alergi susu sapi (ASS) merupakan diagnosis umum pada bayi dan anak-anak. ASS sendiri bermanifestasi sebagai berbagai gejala dan tanda yang umumnya berkembang pada bayi dan akan menurun ketika mereka berusia enam tahun.
Dilansir dari laman Better Health, alergi terhadap susu sapi dan produk susu terkait bisa memengaruhi satu dari 50 bayi. Anak yang alergi susu sapi juga bisa mengalami susu dari hewan lainnya seperti kambing, domba, maupun kerbau.
Apa itu alergi susu sapi?
Menilik dari laman Mayo Clinic, alergi susu sapi adalah respons sistem kekebalan atipikal terhadap susu dan produk yang mengandung susu sapi. Ini adalah salah satu alergi makanan paling umum pada ana-anak.
Pada semua alergi, sistem kekebalan akan bereaksi terhadap pemicu yang dikenal sebagai alergen. Sistem kekebalan akan menghasilkan antibodi yang mendeteksi alergi, menyebabkan reaksi peradangan dan pelepasan bahan kimia, termasuk histamin, yang menyebabkan gejala alergi.
Reaksi alergi biasanya terjadi setelah anak mengonsumsi susu sapi. Gejalanya dan tanda-tandanya pun beragam mulai dari muntah, gatal, hingga masalah pencernaan.
Penyebab alergi susu sapi
Dikutip dari laman Better Health, alergi susu sapi paling sering disebabkan oleh protein yang berada di dalam susu, termasuk whey dan kasein. Anak mungkin mengalami alergi terhadap salah satu dari protein ini atau keduanya.
Ciri-ciri alergi susu sapi pada anak
Gejala atau ciri-ciri alergi susu sapi biasanya akan muncul lebih dari satu. Bahkan, gejalanya bisa terjadi bersamaan di saluran cerna, kulit, serta saluran napas, Bunda.
Gejala ringan atau sedang yang kerap terlihat adalah gumoh, muntah, diare, konstipasi, anemia, dermatitis atopik atau eksim, pilek, batuk kronis, hingga sakit perut.
Sementara itu, gejala berat yang terlihat adalah gagal tumbuh akibat diare, anemia berat, kehilangan protein di saluran cerna, eksim berat, hingga syok anafilaksis yang merupakan kondisi gawat darurat.
Menurut Dokter Anak Konsultan Alergi Imunologi, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A(K), M. Kes, gejala alergi susu sapi ini bisa terjadi secara tumpang tindih dengan kondisi lainnya. Jadi, kenali terlebih dahulu gejalanya sebelum membawa anak ke dokter.
"Gejalanya alergi sering tumpang tindih dengan permasalahan bayi lainnya yang bukan karena alergi. Jadi di sini yang pertama kali harus dilakukan adalah mengenali gejala yang muncul ini alergi atau bukan dan membawanya ke dokter," kata Dr. Budi dalam webinar 'Bicara Gizi Alergi Susu Sapi bersama Nutricia', beberapa waktu lalu.
"Contohnya, ada anak yang dia batuk pilek, apakah pileknya disertai dengan demam? Kemudian apakah saat siang lebih dominan dibandingkan pagi atau malam? Lalu apakah dahak dan ingusnya kental serta berwarna? Jadi harus dikenali dulu ini alergi atau tidak. Apabila jawabannya salah satunya adalah iya, ini kemungkinan infeksi, bukan alergi," sambungnya.
Diagnosis alergi susu sapi
Ilustrasi/Foto: Getty Images/tylim
Dikutip dari laman Better Health, jika anak memiliki gejala ASS, kunjungi dokter dan diskusikan tentang gejala yang dirasakan anak. Untuk mendiagnosis alergi ini, anak mungkin akan dirujuk ke spesialis imunologi atau alergi klinis.
Jika gejala muncul dengan cepat setelah makan dan minum susu atau produk susu, alergi mungkin lebih mudah didiagnosis. Sedangkan, gejala yang membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul membuat diagnosis menjadi lebih sulit dilakukan.
Ahli alergi bisa menguji alergi menggunakan sejumlah metode tergantung pada jenis alergi yang potensial. Tes yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
- Melakukan tes tusuk kulit
- Melakukan tes darah
- Meminta anak untuk menghindari semua produk susu untuk sementara, kemudian melanjutkannya dengan memasukkan kembali susu ke menu makan di bawah pengawasan medis yang ketat
Cara mencegah dan mengobati alergi susu sapi
Dikutip dari laman Mayo Clinic, tidak ada cara pasti yang bisa dilakukan untuk mencegah alergi makanan. Namun, Bunda bisa mencegah reaksi dengan menghindari alergennya.
Jika anak sudah teridentifikasi mengalami alergi susu sapi, Bunda harus melakukan tindakan yang tepat. Hal paling pertama yang perlu dilakukan adalah menghindari segala produk susu sapi dan turunannya, baik dalam bentuk cair maupun padat.
Ketika anak sudah bisa diberikan makanan padat di usia enam tahun, pastikan mereka tidak mengonsumsi makanan yang mengandung protein susu sapi, ya. Sebagai gantinya, cari sumber nutrisi lainnya.
"Ketika anak sudah bisa diberikan makanan padat di usia 6 bulan, berikan makanan yang tidak mengandung protein susu sapi. Jadi hilangkan susu sapi dari diet anak, cari sumber nutrisi alternatif yang memiliki kandungan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam fase pertumbuhan," ujar Dr. Budi.
Beberapa produk yang bisa dihindari adalah sebagai berikut:
- Mentega
- Butter
- Keju
- Cokelat
- Susu sapi atau kambing
- Krim
- Ghee
- Es krim
- Margarin yang mengandung produk susu
- Susu bubuk
- Nougat
- Whey isolat
- Yoghurt
Selanjutnya, Bunda juga perlu membaca label makanan dengan cermat. Pantau pertumbuhan anak secara rutin ya, Bunda.
"Langkah selanjutnya termasuk membaca label makanan dengan cermat, dan memantau pertumbuhan anak secara rutin. Strategi penanganan ini harus dilakukan dengan cepat dan tepat untuk mengurangi dampak negatif ASS," ujar dr. Budi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(mua/fir)