Jakarta -
Mungkin diantara Bunda ada yang bertanya-tanya, “Apakah mungkin bisa hamil lagi setelah menjalani ligasi tuba?” Pertanyaan ini sering muncul, terutama bagi Bunda yang masih bingung dan penasaran tentang efektivitas ligasi tuba ini.
Dari pada bingung, yuk Bunda, simak penjelasannya!
Apakah itu ligasi tuba?
Ligasi tuba, atau yang sering disebut 'sterilisasi perempuan', adalah metode kontrasepsi permanen dengan saluran tuba fallopi Bunda diikat, dipotong, atau disegel. Tujuannya sederhana, yaitu mencegah sel telur bertemu sperma.
Prosedur ini mencegah sel telur yang dilepaskan oleh ovarium, menuju rahim yang merupakan tempat sel telur biasanya dibuahi. Sehingga, ketika Bunda mengikuti prosedur ligasi tuba ini, peluang Bunda untuk hamil lagi sangat kecil.
Kemungkinan hamil setelah ligasi tuba
Ligasi tuba efektif dalam mencegah kemungkinan kehamilan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa setelah Bunda menjalani ligasi tuba masih dapat hamil lagi. Sebab metode ini bukan jaminan mutlak ya Bunda.
Menurut Healthline, diperkirakan 1 dari setiap 200 perempuan dapat hamil lagi setelah ligasi tuba. Ligasi tuba dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik yaitu kondisi sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim. Namun, kehamilan ini tidak dapat berlanjut dengan normal karena lokasi implantasi tidak mendukung perkembangan janin sehingga patut Bunda waspadai.
Menurut University of Pittsburgh Medical Center, seorang perempuan memiliki risiko lebih besar mengalami hal ini jika usianya lebih muda saat menjalani ligasi tuba. Berikut tingkat kehamilan setelah ligasi tuba adalah:
- Sebanyak 5 persen pada perempuan di bawah usia 28 tahun.
- Sebanyak 2 persen pada perempuan antara usia 28 dan 33 tahun.
- Sebanyak 1 persen pada perempuan di atas usia 34 tahun.
Tidak sedikit Bunda yang telah menjalani ligasi tuba terkadang menyesali keputusannya dan menginginkan kehamilan lagi di masa mendatang. Meskipun ligasi tuba adalah metode kontrasepsi permanen yang sangat efektif, tetap ada kemungkinan kecil untuk hamil.
Namun, perlu diketahui bahwa risiko ini sangat rendah dan biasanya melibatkan kondisi tertentu seperti rekanalisasi atau kesalahan prosedur. Jika Bunda mempertimbangkan opsi untuk hamil kembali, ada 2 pilihan untuk kesuburan setelah ligasi tuba, antara lain:
-
Reversi Ligasi Tuba
Prosedur ini melibatkan penyambungan kembali tuba fallopi yang telah dipotong atau diikat. Menurut Advancedfertility, beberapa ahli bedah melakukan operasi pembalikan tuba melalui laparoskopi.
Biasanya dalam prosesnya, memerlukan laparotomi yang merupakan sayatan yang jauh lebih besar di perut, biasanya sekitar 4 hingga 6 inci panjangnya. Hal ini akan menimbulkan ketidaknyamanan dan waktu pemulihan yang jauh lebih lama setelah operasi. Sebab, ini adalah teknik yang relatif sulit dan belum ada data yang cukup untuk mengetahui berapa tingkat kehamilan setelah pembalikan tuba laparoskopi.
Namun, tingkat keberhasilannya bergantung pada usia, metode ligasi sebelumnya, dan kondisi kesehatan tuba fallopi.
-
Fertilisasi In Vitro (IVF)
IVF adalah pilihan lain yang tidak melibatkan tuba fallopi. Metode ini sering menjadi solusi bagi pasangan yang mengalami masalah kesuburan. Prosedur ini lebih cocok bagi perempuan yang tuba fallopinya sudah tidak memungkinkan untuk disambung kembali. Dalam proses ini, sel telur Bunda akan diambil langsung dari ovarium, lalu dibuahi di laboratorium, dan dimasukkan ke dalam rahim Bunda.
Keuntungan terbesar dari fertilisasi in vitro adalah Bunda dapat menghindari operasi besar yang melibatkan pembalikan tuba. Selain itu, tingkat keberhasilan IVF bisa mencapai 50 persen. Hal itu bergantung pada usia Bunda saat menjalani proses ini.
Demikian penjelasannya, semoga membantu ya Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)