Kisah Bunda Didiagnosis Kanker saat Periksa Kehamilan, Jalani Kemoterapi Sebelum Melahirkan

3 months ago 50

Naseem Khorram tak pernah menyangka didiagnosis kanker saat sedang hamil anak keduanya. Padahal, Bunda yang berprofesi sebagai dokter spesialis ginjal ini tidak mengalami gejala apa pun saat hamil dan kehamilannya dianggap berjalan baik.

Khorram pertama kali mengetahui kanker yang diidapnya setelah menjalani pemeriksaan darah rutin selama kehamilan. Tes ini adalah pengujian standar untuk memeriksa kelainan kromosom pada janin, seperti sindrom Down.

Namun, Khorram justru terkejut saat hasil tes keluar. Hasil tes bertuliskan 'tidak lazim untuk varian DNA kromosom ibu'. Menurut hasil tes, bayi di dalam kandungannya sehat, tetapi ada sesuatu yang tak lazim pada kesehatan ibu.

Perlu diketahui, hasil tes 'tidak lazim' bisa disebabkan karena berbagai alasan, seperti pertumbuhan non-kanker atau fibroid rahim. Tetapi, hasil yang 'tidak lazim' juga dapat dikaitkan dengan tingkat keganasan yang sangat tinggi, Bunda.

Dokter lalu menyarankan Khorram untuk menjalani magnetic resonance imaging (MRI) seluruh tubuh. Pemeriksaan ini dapat memindai gambar tubuh untuk memeriksa kanker.

"Ini adalah salah satu masa paling menakutkan dalam hidup yang pernah saya alami," kata Khorram, dilansir CNN.

"Itu bukan sesuatu yang saya antisipasi. Ketika seseorang memberi tahu bahwa kamu mungkin mengidap kanker, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah, 'Apakah saya akan melihat putri saya tumbuh dewasa?' Namun, saya akan melakukannya," sambungnya.

Khorram menjadi subjek penelitian

Khorram tak langsung bisa menjalani MRI lantaran asuransi menolak pemindaian seluruh tubuh. Sebagai gantinya, ia mendaftar di sebuah penelitian National Institutes of Health (NIH), di mana mereka menerima hasil tes sekuensing DNA prenatal abnormal seperti miliknya.

Melalui penelitian ini, Khorram menerima pemindaian MRI seluruh tubuh dan didiagnosis dengan limfoma Hodgkin stadium II atau kanker sistem limfatik. Kanker ini menyerang salah satu sel darah puth yang bertugas melawan infeksi, Bunda.

"Salah satu alasan mengapa saya ingin terlibat dalam penelitian NIH dan berbagi cerita saya adalah karena kita memerlukan protokol. Sistem perawatan kesehatan, asuransi, dan ahli radiologi perlu menyadari bahwa pencitraan dan penyelidikan tambahan diperlukan, dan kita tidak bisa begitu saja mengabaikannya," ungkap Khorram.

Segera setelah didiagnosis, Khorram memulai perawatan kemoterapi tanpa mengganggu kehamilannya. Ia menyelesaikan perawatan dua minggu sebelum anak perempuannya lahir.

"Sangat mudah untuk merasa takut dengan hasil ini, dan itu normal. Namun, saya sangat menganjurkan orang untuk mengadvokasi diri mereka sendiri, untuk menjalani pemeriksaan diagnostik tambahan, karena itu bisa menyelamatkan nyawa," ujar perempuan 36 tahun ini.

Khorram kini sudah terbebas dari kanker. Ia rencanankan akan memeriksakan diri ke dokter di tahun depan untuk memantau kesehatan. Tetapi secara keseluruhan, ia merasa sehat.

Studi terkait kondisi Khorram

Ilustrasi Ibu Hamil dan Dokter

Ilustrasi Diagnosis Kanker saat Hamil/ Foto: iStockphoto/Getty Images/FatCamera

Khorram adalah salah satu dari 107 relawan dalam studi NIH, yang meneliti bagaimana sekuensing cell-free DNA prenatal dapat mendeteksi kanker pada ibu secara tidak sengaja. Cell-free DNA atau cfDNA mengacu pada fragmen DNA yang beredar dalam darah dan cairan tubuh lainnya di luar sel.

Studi yang dipublikasikan baru-baru ini di New England Journal of Medicine menemukan hampir setengah (48,6 persen) dari peserta dengan hasil sekuensing DNA prenatal yang tak biasa memiliki kanker di suatu tempat di tubuh mereka.

"Pertama-tama, kami tidak ingin semua orang hamil khawatir dengan studi ini. Ini adalah sebagian kecil, tetapi merupakan bagian penting," kata penulis senior studi dan direktur Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development, Dr. Diana Bianchi.

"Itu juga tidak berarti bahwa jika seseorang mendapatkan hasil seperti ini, ia memiliki peluang 48 persen untuk mengidap kanker. Tapi, itu artinya ia memerlukan pemeriksaan, dan kita perlu menanggapi hasilnya dengan serius."

Tes genetik prenatal dilakukan untuk menyaring kondisi genetik yang dikenal sebagai aneuploidi janin, seperti sindrom Down. Tes ini juga dapat menganalisis fragmen cell-free DNA dari plasenta yang beredar di aliran darah si ibu.

"Pengujian genetik prenatal dapat mendeteksi kanker karena tumor juga melepaskan fragmen DNA ke dalam aliran darah seperti yang dilakukan plasenta," ujar Bianchi.

Banner Anak Perempuan Tidak Dekat dengan Ayah

Penelitian ini diikuti oleh subjek yang terdaftar dari Desember 2019 hingga Desember 2023. Mereka diteliti dari sejak hamil hingga dua tahun pasca persalinan. Subjek tidak menyadari adanya tanda atau gejala kanker tetapi menerima hasil tes DNA prenatal yang abnormal.

Para peneliti lantas menggunakan MRI seluruh tubuh dan tes diagnostik standar untuk mengidentifikasi peserta dengan kanker yang sebelumnya tidak terdeteksi. Mereka menemukan bahwa 52 dari 107 subjek mengidap kanker tersembunyi, yang berarti penyakit tersebut terdeteksi tetapi lokasi tumor tidak diketahui.

Sementara itu, sebanyak 51 peserta menjalani biopsi untuk memastikan diagnosis kanker. Beberapa kanker yang ditemukan di antaranya kanker limfoma, kanker kolorektal, dan kanker payudara. Enam dari 13 pasien kanker stadium IV ditemukan dan masih memenuhi syarat untuk pengobatan yang berpotensi menyembuhkan.

Studi ini juga mengungkap bahwa Bunda yang mengidap kanker (55,8 persen) tidak menunjukkan gejala penyakit tersebut. Sementara 25 persen memiliki gejala yang dianggap penyebabnya karena kehamilan, Bunda.

Seorang peserta dengan kanker pankreas melaporkan nyeri di perut yang ia kira disebabkan oleh penyakit asam lambung. Sedangkan pasien lain yang mengidap kanker mengalami pendarahan rektal dan berasumsi itu disebabkan oleh wasir, yang umum terjadi pada kehamilan.

"Inti dari penelitian kamu adalah bahwa ibu hamil harus diperlakukan sama seperti orang lain. Perawatan mereka tidak boleh ditunda hanya karena sedang hamil. Ada banyak informasi medis dan penelitian di luar sana yang menunjukkan obat kemoterapi mana yang aman untuk diberikan selama kehamilan," ungkap Bianchi.

"Bahkan, ada informasi yang menunjukkan sekarang bahwa secara umum setelah usia kehamilan sekitar 19 minggu, ibu hamil dapat melakukan perawatan dengan aman," lanjutnya.

Demikian kisah Bunda Naseem Khorram dan studi tentang kanker saat hamil. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Simak juga 7 hal yang jarang disadari dapat memicu kanker payudara, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/ank)

Loading...

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online