Jakarta -
Fungsi endometrium berperan penting dalam reproduksi perempuan seperti dalam kehamilan. Namun, gangguan pada endometrium ini dapat menyebabkan masalah. Yuk lebih mengenal fungsi endometrium dan gangguan penyakit yang bisa timbul.
Melansir Mayoclinic, perubahan abnormal pada endometrium dapat menjadi tanda awal dari kondisi serius seperti hiperplasia atau kanker. Untuk itu perempuan sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin.
Apa itu endometrium?
Endometrium adalah jaringan yang melapisi rahim-organ berbentuk buah pir yang menampung janin. Monique Rainford, MD, Dokter Kandungan-Ginekologi, menjelaskan bahwa selaput lendir ini menebal untuk mengantisipasi kemungkinan kehamilan.
"Jika sel telur yang telah dibuahi tertanam, lapisan tersebut akan tetap berada di tempatnya. Jika tidak, endometrium akan menipis dan mengelupas saat menstruasi," ujar Rainford dilansir dari Very Well Health.
Kelainan endometrium, yang juga disebut lapisan endometrium, dapat menyebabkan masalah seperti endometriosis (jaringan tumbuh di luar rahim), hiperplasia (penebalan tidak teratur), dan kanker.
Endometrium sebagian besar terdiri dari jaringan mukosa. Endometrium memiliki dua lapisan.
- Lapisan pertama, stratum basalis, menempel pada lapisan jaringan otot polos rahim yang disebut miometrium. Lapisan ini merupakan jangkar bagi endometrium di dalam rahim dan relatif tidak berubah.
- Lapisan kedua bersifat dinamis. Lapisan ini berubah sebagai respons terhadap aliran hormon bulanan yang memandu siklus menstruasi. Karena alasan ini, lapisan ini disebut stratum fungsionalis, atau lapisan fungsional. Lapisan ini merupakan bagian endometrium tempat sel telur yang telah dibuahi (atau blastokista) akan menempel jika terjadi pembuahan.
Struktur endometrium ini tersusun atas jaringan epitel, stroma, dan pembuluh darah. Struktur ini berperan dalam mendukung proses kehamilan.
Fungsi endometrium
Fungsi utama endometrium adalah menyediakan tempat yang sesuai untuk implantasi dan perkembangan embrio selanjutnya.
Dilansir dari ScienceDirect, endometrium merupakan mukosa dengan banyak kelenjar penghasil glikogen dan lingkungan yang sangat tervaskularisasi. Jika tidak terjadi implantasi, sebagian besar endometrium akan mengelupas, sehingga terjadi aliran menstruasi, dan akan diregenerasi selama siklus menstruasi berikutnya.
Siklus pengelupasan dan regenerasi endometrium ini dikendalikan hormon ovarium, estrogen dan progesteron. Peningkatan dan penurunan kadar hormon ini mengatur pertumbuhan dan pengelupasan endometrium.
Perubahan pada lapisan endometrium
Struktur dan fungsi endometrium mengalami perubahan selama siklus menstruasi. Perubahan tersebut dipengaruhi hormon estrogen dan progesteron. Berukut sejumlah fase dalam endometrium selama menstruasi:
- Fase menstruasi: Pada fase menstruasi, kira-kira 4 hari pertama dari siklus 28 hari yang umum, lapisan fungsional mengalami pengelupasan. Serpihan sel serta darah dikeluarkan ke dalam vagina.
- Fase poliferatif: Dari hari ke-5 hingga ovulasi, endometrium berada dalam fase proliferatif. Endometrium dapat menebal hingga 2–3 mm saat ini. Akumulasi produk sekresi di lumen kelenjar, bersama dengan beberapa edema stroma, menyebabkan endometrium semakin menebal.
- Fase sekresi. Pada fase ini, progesteron merangsang endometrium untuk mempersiapkan implantasi setelah ovulasi.
Gangguan pada endometrium
Pasang surut lapisan endometrium mengikuti ritme yang cukup dapat diprediksi. Namun, hal ini dapat berubah karena gangguan pada lapisan endometrium. Berikut sejumlah gangguan pada endometrium yang paling umum dialami perempuan:
1. Endometriosis
Endometriosis terjadi ketika jaringan endometrium tumbuh di luar rahim, mengendap di luar lapisan rahim dan menumpuk di ovarium, tuba falopi, atau jaringan yang melapisi panggul. Meskipun berada di luar rahim, jaringan ini akan terus tumbuh dan kemudian rusak saat Bunda mengalami menstruasi.
Masalahnya adalah karena jaringan tersebut bergeser, darah dan jaringan tidak memiliki tempat untuk keluar dari tubuh dan terperangkap.
Terkadang, endometriosis dapat menyebabkan kista pada ovarium yang disebut endometrioma, serta jaringan parut dan perlengketan yang menyebabkan struktur di panggul saling menempel.
Sejumlah perempuan tak memiliki gejala. Namun, beberapa perempuan yang lain mengalami gejala utama seperti nyeri, tidak hanya saat menstruasi tetapi juga saat berhubungan seksual, buang air besar, atau buang air kecil. Periode menstruasi mungkin berat, dan Bunda mungkin merasa sangat lelah, kembung, atau mual.
Endometriosis dapat diobati dengan pengobatan, terapi hormon, atau pembedahan, tetapi tetap dapat memengaruhi kesuburan.
Sekitar 30 hingga 50 persen penderita endometriosis akan mengalami beberapa tingkat infertilitas yang diakibatkan sejumlah komplikasi, seperti jaringan parut dan perlengketan di dalam dan sekitar tuba fallopi akibat rendahnya kadar progesteron yang dapat memengaruhi pembentukan lapisan rahim—suatu kondisi yang disebut cacat fase luteal.
2. Hiperplasia endometrium
Hiperplasia endometrium adalah penebalan abnormal lapisan endometrium, seringnya berhubungan dengan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron.
Hiperplasia endometrium dapat terjadi selama perimenopause ketika ovulasi menjadi tidak teratur atau setelah menopause saat siklus menstruasi berhenti total. Kondisi ini juga dapat terjadi pada orang yang mengonsumsi obat yang bekerja seperti estrogen (tanpa progestin atau progesteron) atau yang mengonsumsi estrogen dosis tinggi setelah menopause dalam jangka waktu yang lama.
Gejala hiperplasia endometrium termasuk perdarahan menstruasi yang lebih berat atau berlangsung lebih lama dari biasanya, periode yang lebih pendek dari biasanya, atau perdarahan apa pun setelah menopause.
Hiperplasia endometrium dapat membuat perempuan berisiko terkena kanker endometrium, karena sel-sel yang berlebih dapat menjadi abnormal. Kondisi ini biasanya diobati dengan progestin.
3. Polip endometrium
Polip endometrium merupakan pertumbuhan jaringan abnormal di dalam rahim yang bisa menyebabkan perdarahan tidak teratur.
4. Kanker endometrium
Kanker endometrium disebabkan pertumbuhan sel-sel abnormal. Sekitar 90% orang yang didiagnosis dengan kondisi ini mengalami pendarahan vagina yang tidak normal.
Perempuan yang mengalami kanker endometrium memiliki gejala seperti keputihan yang tidak berdarah, nyeri panggul, merasakan adanya massa di area panggul, atau penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
5. Ukuran terlalu tipis
Endometrium yang terlalu tipis dapat mengganggu proses implantasi embrio. Kondisi ini juga dapat menyebabkan keguguran berulang.
6 Gangguan hormon
Lapisan endometrium menjadi tidak stabil jika Bunda mengalami ketidakseimbangan hormon. Dan kondisi ini dapat memengaruhi menstruasi dan kesuburan.
7. Polip rahim
Polip rahim sifatnya jinak, namun karena benjolan berisi pembuluh darah, maka bisa menyebabkan perdarahan yang keluar dari rahim, baik di luar siklus haid atau setelah melakukan hubungan seksual.
8. Sindrom asherman
Sindrom Asherman adalah terbentuknya jaringan parut atau adhesi di laposan rahim yang dapat merusak struktur endometrium. Kondisi ini karena trauma dan jarang terjadi di rahim perempuan
Dalam kasus yang parah, seluruh dinding depan dan belakang rahim dapat menyatu. Dalam kasus yang lebih ringan, perlengketan dapat muncul di area rahim yang lebih kecil. Adhesi bisa tebal atau tipis, dan mungkin letaknya jarang atau justru bersatu.
Perempuan yang mengalami sindrom asherman sulit untuk hamil. Jika hamil, rentan mengalami keguguran yang berulang.
9. Radang panggul
Radang panggul dapat menyebabkan peradangan pada rahim dan lapisan endometrium sehingga mengganggu fungsinya.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa radang panggul adalah infeksi pada organ reproduksi perempuan karena bakteri masuk dari vagina ke dalam rahim, ovarium, atau tuba fallopi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)