Jakarta -
Usia seorang perempuan sering kali dikaitkan dengan kemungkinan ia mendapatkan kehamilan yang sehat. Misalnya, semakin tua usia ibu hamil, semakin berisiko ia melahirkan bayi dengan cacat lahir.
Namun, sebuah studi yang dipaparkan dalam Society of Maternal Fetal Medicine tahun 2014 mengungkap hal yang berbanding terbalik, Bunda. Studi menemukan bahwa ibu hamil berusia 35 tahun ke atas justru memiliki risiko lebih rendah untuk melahirkan bayi dengan cacat lahir bila dibandingkan wanita yang usianya lebih muda.
Lantas, seperti apa hasil temuan studi ini ya?
Studi tentang usia ibu dan risiko cacat lahir
Menurut hasil penelitian, ibu hamil berusia 35 tahun ke atas memiliki risiko lebih rendah daripada wanita yang lebih muda untuk memiliki bayi dengan masalah bawaan yang serius, seperti cacat fisik yang dapat melibatkan jantung, otak, ginjal, dan tulang. Tim peneliti mengaku terkejut dengan hasil temuan ini, Bunda.
"Semua orang, termasuk rekan penulis saya, sedikit terkejut dengan temuan tersebut," kata penulis studi Katherine Goetzinger, MD, dari Washington University di Barnes-Jewish Hospital.
Usia ibu yang lanjut, yang biasanya didefinisikan sebagai 35 tahun ke atas, merupakan faktor risiko untuk melahirkan anak dengan kelainan kromosom seperti sindrom Down. Namun, hanya sedikit penelitian yang melihat apakah ada peningkatan risiko untuk masalah bawaan yang serius tanpa adanya kelainan kromosom.
"Karena semakin banyak perempuan yang menunda memiliki anak, mereka menghadapi banyak peningkatan risiko kehamilan," ujar Goetzinger.
"Temuan dari studi ini dapat memberikan sedikit kepastian bagi para perempuan mengenai kemungkinan memiliki anak yang normal," sambungnya, dikutip dari laman Washington University.
Perlu diketahui ya, para peneliti di studi ini mengamati data yang dikumpulkan dari lebih 76.000 ibu hamil selama pemeriksaan USG rutin di trimester kedua. Mereka lalu membandingkan satu atau lebih kelainan bawaan utama yang didiagnosis saat USG pada ibu hamil berusia di bawah dan di atas 35 tahun. Para peneliti juga memeriksa insiden cacat otak, ginjal, jantung, dan sistem saraf pusat yang parah.
Hasil studi menemukan, usia ibu yang lanjut dikaitkan dengan penurunan risiko sebesar 40 persen dari satu atau lebih masalah bawaan utama, setelah mengendalikan faktor risiko lain seperti diabetes gestasional dan penggunaan alkohol.
Sementara itu, insiden cacat ginjal, otak, dan dinding perut ditemukan lebih rendah terjadi pada ibu hamil berusia 35 tahun ke atas. Sedangkan, frekuensi yang sama pada kedua kelompok usia ibu ditemukan pada insiden cacat jantung.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan perbedaan tersebut. Tetapi, Goetzinger berspekulasi bahwa ibu hamil berusia 35 tahun ke atas mungkin lebih memerhatikan perilaku sehat selama kehamilan, seperti mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan mengonsumsi vitamin prenatal, dibandingkan dengan ibu yang lebih muda.
"Saya berharap penelitian ini membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut tentang bagaimana kita dapat memberi saran dan merawat perempuan berusia 35 tahun ke atas yang sedang mempertimbangkan untuk hamil," ungkap Goetzinger.
Penelitian yang mengulik tentang hal 'positif' pada kehamilan di atas 35 tahun memang jarang bila dibandingkan dengan dibandingkan dengan risikonya buruknya.
Studi yang diterbitkan dalam Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica tahun 2022, misalnya, mengidentifikasi bahwa banyak bukti yang tidak kuat menunjukkan bahwa kelompok usia ibu yang lebih tua memiliki peluang lebih besar untuk memiliki anak dengan kelainan bawaan dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kelompok usia 20-34 tahun.
Studi ini menyertakan 15 studi kohort, 14 studi kasus-kontrol, dan 36 studi cross-sectional. Menurut studi, hasil yang didapat tim peneliti ini berasal dari bukti berkualitas sangat rendah tanpa penyesuaian faktor pengganggu.
Ilustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/FatCamera
Ulasan terbaru pakar soal risiko hamil di atas 35 tahun
Meski studi menemukan risiko rendah kehamilan di atas usia 35 tahun, Bunda tetap perlu waspada. Dalam ulasan terbaru, pakar memaparkan beberapa risiko tinggi yang dapat terjadi pada ibu hamil di atas 35 tahun.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Traci C. Johnson, MD, mengatakan bahwa sebagian besar perempuan berusia di atas 35 tahun dapat menjalani kehamilan yang normal. Para Bunda ini juga dapat melahirkan bayi dalam kondisi sehat.
"Risiko bagi ibu dan bayi sedikit lebih tinggi dari rata-rata, tetapi masih sangat rendah," ungkap Johnson, dikutip dari Web MD.
Beberapa risiko ini meliputi:
1. Cacat lahir
Ibu hamil yang usianya cukup tua lebih mungkin memiliki bayi dengan kelainan kromosom, seperti sindrom Down. Jika Bunda berusia 25 tahun, kemungkinan melahirkan anak dengan sindrom Down adalah sekitar 1:1.250. Jika berusia 35 tahun, risikonya meningkat menjadi 1:400. Pada usia 45 tahun, risikonya menjadi 1:30.
2. Keguguran
Kebanyakan kasus keguguran terjadi dalam 13 minggu pertama kehamilan. Seiring bertambahnya usia, risiko keguguran dini meningkat. Pada usia 35 tahun, kemungkinannya sekitar 20 persen. Pada usia 45 tahun, kemungkinannya menjadi 80 persen.
3. Tekanan darah tinggi dan diabetes
Bunda yang berusia di atas 35 tahun lebih mungkin mengalami tekanan darah tinggi atau diabetes selama kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan masalah termasuk keguguran, masalah pertumbuhan pada bayi, atau komplikasi selama persalinan.
4. Masalah plasenta
Plasenta previa terjadi ketika plasenta menutupi seluruh atau sebagian serviks. Hal ini dapat menyebabkan perdarahan berisiko selama persalinan. Perempuan berusia 40-an tiga kali lebih mungkin mengalami masalah plasenta daripada mereka yang berusia 20-an. Meski begitu, masalah ini jarang terjadi.
5. Kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah
Ibu hamil di atas usia 35 tahun berisiko melahirkan bayi prematur atau sebelum usia kehamilan 37 minggu. Akibatnya, bayi yang lahir memiliki berat badan kurang dari 2,5 kilogram (kg) saat lahir.
Tips menjalani kehamilan sehat di atas 35 tahun
Melansir dari beberapa sumber, berikut 8 tips menjalani kehamilan sehat di atas usia 35 tahun:
- Kontrol lebih sering ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatan Bunda dan janin.
- Rutin menghitung gerakan janin yang mulai terasa di usia kehamilan 16 minggu. Normalnya, gerakan janin yang aktif adalah 10 kali per 24 jam. Bila berkurang, segera konsultasi ke dokter.
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama perbanyak konsumsi protein, vitamin, dan mineral.
- Hindari konsumsi makanan manis, mengandung pengawet, dan tinggi karbohidrat.
- Menjalani pemeriksaan atau skrining menyeluruh di awal dan akhir kehamilan, seperti skrining diabetes dan anemia.
- Bunda juga dapat menjalani pemeriksaan medis penunjang untuk mengetahui kondisi janin, seperti Skrining Nuchal Translucency (NT), Tes NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing), dan USG fetomaternal.
- Kelola stres dan istirahat cukup selama hamil.
- Usahakan untuk tetap bergerak aktif atau melakukan olahraga ringan sesuai dengan saran dokter.
Demikian serba-serbi kehamilan di atas 35 tahun dan risikonya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)