Jakarta -
Mengalami keguguran tentunya menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi Bunda yang sudah lama menanti-nantikan momongan. Apalagi jika terjadi berulang kali, rasa sedih itu bisa menyelimuti relung hati Bunda dan keluarga.
Namun, tahukah salah satu penyebab keguguran yang sangat umum adalah banyak Bunda yang tidak menyadari bahwa mereka sedang hamil. Hal itu berdasarkan studi dari Mayoclinic.org, bahwa sekitar 10 hingga 20 persen kehamilan berakhir dengan keguguran. Biasanya, keguguran terjadi pada usia kehamilan sekitar 13 minggu pertama.
Sementara itu, dikutip dari NHS.uk, sebanyak 60 persen Bunda mengalami keguguran disebabkan embrio menerima jumlah kromosom dengan jumlah yang tidak normal selama pembuahan. Jenis masalah genetik ini terjadi secara kebetulan dan tidak ada kondisi medis yang menyebabkannya.
Bahkan, berdasarkan studi yang dipublikasikan oleh National Center foar Biotechnology Information, sebanyak 1 hingga 2 persen pasangan dapat mengalami keguguran berulang. Keguguran berulang (RPL) didefinisikan sebagai keguguran dua kali atau lebih sebelum usia kehamilan 24 minggu.
Meski banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, salah satu yang sering luput dari perhatian adalah masalah autoimun. Lalu, bagaimana sebenarnya autoimun dapat memengaruhi kehamilan?
Apa itu autoimun?
Autoimun adalah kondisi dengan sistem imun keliru dalam melindungi Bunda dari penyakit dan infeksi. Yang seharusnya melindungi tubuh Bunda dari serangan virus atau bakteri, justru menyerang jaringan tubuh sendiri.
Biasanya, sistem imun bertugas dalam membedakan antara sel-sel asing dan sel-sel Anda. Namun, jika Bunda memiliki penyakit autoimun, pada saat kehamilan, sistem imun akan salah mengira bahwa janin adalah benda asing yang perlu diserang. Akibatnya, risiko keguguran pun meningkat.
Bagaimana autoimun bisa menyebabkan keguguran berulang?
Pada gangguan autoimun, sistem imun tubuh tidak membedakan antara 'jaringan sendiri' dan 'jaringan asing'. Dalam konteks kehamilan, plasenta dan janin yang sebenarnya bukan ancaman dapat dianggap sebagai 'target asing', sehingga memicu respons imun berlebihan.
Beberapa gangguan autoimun yang terkait dengan keguguran berulang meliputi:
1. Antiphospholipid syndrome (APS): Gangguan pembekuan darah
Kondisi ini disebabkan oleh antibodi yang menyerang fosfolipid sehingga menyebabkan darah lebih mudah menggumpal. Akibatnya, aliran darah akan terhambat menuju plasenta. Tanpa pasokan darah yang cukup, janin Bunda tidak bisa berkembang dengan optimal.
2. Lupus eritematosus sistemik (SLE)
Lupus eritematosus sistemik adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan aktivasi imunitas adaptif yang tidak terkendali, khususnya sel B. Dilansir dari Frontiers.org, Lupus kerap menyerang perempuan dengan rasio 9 banding 1 dibandingkan pria.
Ketimpangan jenis kelamin yang mencolok ini sangat menunjukkan peran hormon seks wanita dalam timbulnya dan perkembangan penyakit. Bunda wajib waspada, sebab Lupus juga bisa menyerang wanita subur dan memiliki risiko keguguran lebih tinggi, terutama jika kondisinya tidak terkontrol.
3. Hashimoto’s thyroiditis: Gangguan tiroid autoimun
Gangguan tiroid akibat autoimun ini dapat mengganggu keseimbangan hormon, yang sangat penting untuk menjaga kehamilan. Penyakit ini biasa menyerang para Bunda yang kekurangan Yodium.
Yodium dibutuhkan tubuh untuk hormon tiroid. Hormon tersebut mengatur metabolisme, energi, pertumbuhan dan perkembangan. Bunda bisa mengantisipasinya dengan banyak mengkonsumsi makanan laut dan produk olahan susu serta kuning telur yang kaya akan Yodium.
4. Diabetes
Ada 2 istilah dalam diabetes pada kehamilan:
- Gestational Diabetes Mellitus (GDM) adalah diabetes yang terjadi saat kehamilan dan tidak memiliki penyakit diabetes sebelum hamil.
- PreGestational Diabetes Mellitus (PGDM) adalah diabetes yang terjadi pada ibu hamil dengan memiliki riwayat diabetes sebelumnya, bisa diabetes mellitus tipe 1 atau tipe 2.
Nah, Bunda tetap harus mengontrol jumlah gula darah yang masuk guna menghindari komplikasi kehamilan, termasuk keguguran.
Gejala yang perlu diwaspadai
Gangguan autoimun sering kali sulit dikenali. Hal itu disebabkan gejalanya yang bervariasi. Namun, Bunda harus tau gejala apa saja yang perlu diwaspadai dan dikonsultasikan dengan dokter.
- Keguguran berulang tanpa penyebab yang jelas.
- Kelelahan berlebih.
- Nyeri sendi atau otot.
- Pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.
- Sensitivitas terhadap matahari.
Bagi Bunda yang pernah mengalami keguguran, penting sekali untuk melakukan konsultasi pra-kehamilan. Beritahu dokter tentang riwayat kesehatan Bunda, termasuk riwayat autoimun dalam keluarga. Dengan diagnosis dini dan pengelolaan yang tepat, peluang Bunda untuk memiliki kehamilan sehat tetap ada.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)