Jakarta -
Keguguran dapat menjadi momok menakutkan bagi pasangan suami istri yang telah lama menanti momongan. Tak sedikit dari mereka memerlukan waktu lama untuk pulih setelah kehilangan calon anaknya.
Hal tersebut juga dialami Shelley Romaniuk dan suaminya. Perempuan 33 tahun ini bahkan sampai mengalami 'trauma' lantaran tak mendapatkan dukungan medis dan psikis usai mengalami keguguran.
Sembilan tahun yang lalu, Romaniuk mengetahui bahwa ia sedang hamil anak pertama. Kehamilan ini didapat setelah ia dan sang suami berjuang selama bertahun-tahun untuk mendapatkan momongan, Bunda.
Setelah positif hamil, Romaniuk menjalani USG secara rutin. Namun, ia tak menyadari bahwa telah kehilangan bayinya karena mengalami missed miscarriage atau keguguran yang tidak diketahui.
"Kami menjalani pemindaian pada usia kandungan 12 minggu, dan kami diberi tahu bahwa bayi tersebut tidak memiliki detak jantung," ujar Romaniuk, dilansir BBC.
"Setelah pemindaian tersebut, kami hanya dimasukkan ke dalam sebuah ruangan, diberi selebaran, dan dibiarkan di sana sampai seseorang datang untuk menanyakan apa yang ingin kami lakukan," tambahnya.
Romaniuk mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin menjalani prosedur dilation and curettage (D&C) atau kuret untuk mengeluarkan janinnya. Tetapi, ia diberi tahu bahwa hal tersebut tidak dapat dilakukan selama seminggu lantaran tidak ada jadwal yang tersedia.
Romaniuk merasa ia tidak mendapatkan dukungan secara medis dan non-medis saat mengalami keguguran. Padahal, ia dan sang suami terus meminta bantuan, Bunda.
"Pada dasarnya, mereka mengatakan bahwa saya tidak dapat melakukan (kuret) sekarang, saya harus pulang dan kembali seminggu kemudian, itu saja," katanya.
"Tidak ada tawaran dukungan, tidak ada terapi, tidak ada konseling, dan saya harus pergi sambil membawa bayi saya yang sudah tidak hidup lagi. Kami terus-menerus meminta bantuan."
Kekecewaan Romaniuk tak berhenti sampai di situ. Setelah gagal menjalani kuret, ia dibiarkan begitu saja tanpa mendapatkan dukungan. Romaniuk pun mengalami trauma hingga depresi.
"Saya tidak berhasil melakukan kuret dan sayangnya saya kehilangan bayi secara alami," ungkapnya.
"Tetapi bahkan setelah itu, kami menjalani seluruh proses, saya dibiarkan begitu saja dan tidak ada dukungan sama sekali. Saya mengalami depresi untuk waktu yang lama setelah itu," lanjutnya.
Setelah 12 tahun berjuang melawan infertilitas atau masalah kesuburan, Romaniuk dan suaminya memutuskan untuk menjalani perawatan kesuburan di klinik swasta, dan pasangan itu kini tengah menantikan kelahiran bayi perempuan mereka.
Namun, Romaniuk yakin bahwa kurangnya dukungan kesehatan mental yang diterimanya membuat program hamil menjadi lebih sulit. Ia bahkan kesulitan untuk menjelani skrining USG karena trauma dengan apa yang dialaminya, Bunda.
"Kami terus-menerus meminta bantuan, tetapi tidak mendapatkan apa pun. Masih membekas dalam ingatan tentang trauma yang tersisa dari keguguran yang terlewat dan bagaimana kami diperlakukan. Bahkan sekarang, menjalani pemintaian itu menjadi sulit karena saya terus mengingat semuanya," kata Romaniuk.
"Mungkin bila saya mendapat dukungan untuk menghadapinya dan melangkah maju serta mengatasi trauma, segalanya akan berbeda."
Ilustrasi Keguguran/ Foto: Getty Images/iStockphoto
Pentingnya dukungan untuk Bunda yang alami keguguran
Keguguran memang bisa meninggalkan trauma. Tak hanya bikin Bunda stres, peristiwa menyedihkan ini juga dapat menimbulkan gejala kecemasan dan depresi atau post-traumatic stress disorder (PTSD).
Dr Jessica Farren dari Imperial College London, mengatakan bahwa keguguran bisa menjadi pengalaman yang sangat traumatis. Sebab, peristiwa ini dapat terjadi di luar kendali.
"Bagi beberapa wanita, ini adalah pertama kalinya mereka mengalami sesuatu yang di luar kendali. Ini bisa menjadi peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan," kata Farren.
Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Obstetrics and Gynaecology tahun 2019 menemukan bahwa tingkat stres, kecemasan, dan depresi bisa meningkat setelah mengalami keguguran dini. Kondisi tersebut dapat menurun dari waktu ke waktu atau setelah 9 bulan.
"Setelah keguguran, 16 persen wanita mengalami stres pasca trauma, 17 persen cemas, dan 5 persen depresi," ungkap Farren menambahkan.
Dalam statistik sederhana, hasil penelitian tersebut juga menemukan 1 dari 6 wanita bisa mengalami PTSD hampir setahun setelah keguguran dan kehamilan ektopik. PTSD merupakan kondisi kejiwaan yang dapat berkembang setelah pengalaman yang mengejutkan, menakutkan, dan berbahaya. Pada kebanyakan kasus, PTSD membutuhkan perawatan yang spesifik karena tidak bisa ditangani dengan konseling umum.
Mendapatkan dukungan medis dan non-medis adalah salah satu kunci untuk meminimalkan trauma pasca keguguran. Bahkan setelah Bunda mengalaminya, dukungan dari sekitar tetap diperlukan.
Coba bicarakan perasaan Bunda dengan Ayah saat mulai merasa sedih atau mengingat kembali trauma yang dialami. Hormati juga perasaan masing-masing karena setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengatasi rasa kehilangan.
Bila Bunda merasa tidak kuat mengatasi trauma dan memiliki gejala depresi atau kecemasan klinis, segara cari bantuan profesional. Pastikan untuk mendapatkan bantuan yang sesuai, baik dari segi medis atau non-medis.
Bunda juga dapat mengatasi trauma dengan bergabung di support grup atau perkumpulan orang-orang yang pernah mengalami keguguran. Berbagi cerita dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa, terkadang bisa membuat Bunda merasa lebih tenang.
Demikian kisah Bunda yang mengalami trauma usai keguguran karena tak mendapatkan dukungan dari profesional. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/ank)