Zat Kimia Beracun PFAS Bisa Muncul di ASI Jika saat Hamil Pakai Makeup dan Parfum, Simak Faktanya!

3 months ago 55

Jakarta -

Ingin tampil cantik saat menyusui dengan pulasan makeup memang membuat kegalauan para ibu menyusui. Apalagi, risiko zat berbahaya bisa mengendap dan memengaruhi bayi. Termasuk adanya zat kimia beracun PFAS bisa muncul di ASI jika saat hamil pakai makeup dan parfum. Simak penjelasannya.

Dalam sebuah studi, dipaparkan bahwa perempuan yang memakai riasan atau makeup setiap hari pada trimester pertama dan ketiga memiliki konsentrasi PFAS plasma dan ASI masing-masing 14 dan 17 persen lebih tinggi. 

Keberadaan bahan kimia tersebut tentunya menimbulkan ancaman kesehatan bagi anak-anak yang sedang berkembang dan dikaitkan dengan kelahiran prematur, laktasi yang lebih pendek, seperti dikutip dari laman The Guardian.

Penelitian baru menunjukkan bahwa penggunaan produk perawatan pribadi yang lebih tinggi di kalangan perempuan hamil atau menyusui menyebabkan kadar bahan kimia PFAS yang lebih tinggi dalam darah dan ASI mereka, yang menimbulkan ancaman kesehatan yang serius bagi anak-anak yang sedang berkembang.

Studi baru ini membantu menghubungkan titik-titik di antara makalah-makalah sebelumnya yang telah menemukan kadar PFAS yang mengkhawatirkan dalam produk perawatan pribadi, darah tali pusat, ASI, dan menunjukkan risiko kesehatan bagi anak-anak yang sedang berkembang.

"Analisis data dari 2.000 perempuan dilakukan untuk membandingkan penggunaan produk perawatan pribadi dengan kadar PFAS, dan temuannya 'mengkhawatirkan'," kata Amber Hall, seorang peneliti  dari Brown University dan rekan penulis studi.

"Bahan ini tidak hanya masuk ke dalam darah dan ASI, tetapi juga masuk ke sana pada tingkat yang cukup tinggi sehingga kita dapat menghubungkannya dengan frekuensi penggunaan yang lebih tinggi," kata Hall.

PFAS adalah golongan yang terdiri dari sekitar 15.000 senyawa yang biasanya digunakan untuk membuat produk yang tahan air, noda, dan panas. Zat ini disebut "forever chemicals" karena tidak terurai dan terakumulasi secara alami, dan dikaitkan dengan kanker, penyakit ginjal, masalah hati, gangguan kekebalan tubuh, cacat lahir, dan masalah kesehatan serius lainnya.

Bahan kimia ini banyak digunakan di seluruh sektor perekonomian, dan telah ditambahkan ke produk perawatan pribadi mulai dari benang gigi hingga kosmetik, sering kali untuk membantu menyebarkan bahan aktif, atau membantu kulit menyerapnya. Zat ini juga meresap ke dalam produk dari kemasan atau titik lain dalam rantai pasokan.

Peneliti menemukan bahwa bahan dengan kadar darah atau susu tertinggi dikaitkan dengan produk perawatan kuku, wewangian, tata rias, pewarna rambut, dan semprotan rambut.

Perempuan yang memakai riasan setiap hari pada trimester pertama dan ketiga memiliki konsentrasi PFAS dalam plasma dan ASI masing-masing 14 dan 17 persen lebih tinggi.

Kemudian, perempuan yang mengecat rambut setidaknya dua kali selama kehamilan menunjukkan kadar PFOS, salah satu senyawa PFAS yang paling umum dan berbahaya, yang 36 persen lebih tinggi daripada mereka yang tidak. Sementara itu, perempuan  yang menggunakan produk kuku setelah melahirkan ditemukan memiliki kadar PFOS sekitar 27 persen lebih tinggi.

Penelitian sebelumnya menemukan PFAS dalam setiap 30.000 sampel darah tali pusat yang diambil selama periode lima tahun di berbagai lokasi di seluruh dunia. ASI dalam 50 sampel AS ditemukan mengandung kadar bahan kimia yang mengkhawatirkan.

Paparan sangat berbahaya bagi anak-anak yang sedang berkembang karena mereka lebih rentan dan dapat memicu masalah kesehatan seumur hidup. Di antara masalah lain yang terkait dengan kehamilan dan perkembangan, PFAS dikaitkan dengan penurunan berat badan lahir, kelahiran prematur, periode laktasi yang lebih pendek, penurunan nilai gizi susu, gangguan perkembangan saraf, dan respons vaksin yang menurun pada anak-anak.

Perempuan dapat mengambil beberapa langkah untuk melindungi diri mereka sendiri, seperti mengurangi penggunaan produk perawatan pribadi yang tidak penting saat hamil atau menyusui. Para ibu juga dapat menemukan produk yang bebas dari bahan kimia beracun, meskipun sulit untuk mengidentifikasi PFAS pada label produk, dan terkadang kandungannya tidak diungkapkan.

Beberapa negara bagian telah mulai melarang atau membatasi penggunaan PFAS dalam produk perawatan pribadi sebagai bahan aktif. Hal itu dapat menekan perusahaan untuk menghilangkan PFAS dari produk mereka di seluruh negeri sehingga mereka tidak perlu memproduksi formula yang berbeda untuk negara bagian yang berbeda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Read Entire Article
Berita Nusantara Berita Informasi Informasi Berita Berita Indonesia Berita Nusantara online Berita Informasi online Informasi Berita online Berita Indonesia online